k

Minggu, 15 Agustus 2010

Tiga Hal yang Meninggikan Derajat

berita
Mungkin akrab di lingkungan pergaulan kita, banyak orang diperlakukan berbeda karena kekayaannya, pendidikannya, keturunannya, jabatannya dan 'strata sosial' lainnya. Sedih memang diperlakukan berbeda, sebagaimana ketika saya pernah diperlakukan berbeda di sebuah show room mobil hanya karena mobil yang saya bawa kelas 'biasa saja'. Berbeda ketika hari setelahnya saya membawa mobil yang 'menurut ukuran' mereka 'berkelas', perlakuan pun mendadak berubah. Semua serba sopan dan memberikan penghargaan.

Akan selalu panas rasanya kalau kita tidak menenangkan hati dengan 'kategori berkelas' yang Rasulullah SAW tuntunkan. Ada tiga hal yang dapat meninggikan derajat kita di mata Allah, namun luar biasanya tiga hal tersebut tidak hanya mampu menaikkan derajat kita di akhirat tapi juga di dunia. Hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah ini sangat masyhur. 

 "Wahai manusia! Sebarkanlah salam, berilah makanan, sambunglah tali silaturahmi dan salatlah ketika manusia lain tengah tertidur; niscaya kamu akan masuk surga dengan selamat sejahtera" (HR. At Tirmidzi).

1. Ifsyaaus Salaam (Menyebarkan Salam)
Rasanya tepat sekali syariat salat ditutup dengan salam. Kita menoleh ke kanan ke kiri seakan memberi pesan bahwa siapapun yang ada di lingkaran kita harus aman, harus terlingkungi kedamaian. Salam juga sebagai bentuk dari silaturrahim, sebuah habit yang sangat penting untuk mengembangkan relasi sosial lebih baik, bahkan termasuk untuk setiap kesuksesan profesi kita. Dalam bisnis misalnya bisa dibilang 50% modal dimulai dari database. Artinya Rasulullah telah mengajarkan siapa yang silaturrahimnya baik, relasinya akan semakin luas, peluang usaha semakin terbuka, untung pun akan bertambah.

Jika setiap pelaku usaha menyiapkan agenda dan strategi promosi sebagai bentuk menyebarluaskan informasi usahanya, bukankah pesan risalah ke-Tuhanan dan Kenabian juga perlu kita sebarkan, kita promosikan?

Mari biasakan beruluk salam, kini jarak tak relevan menjadi alasan. Ada sms, ada email, ada telepon, ada internet, dan medium lainnya. Mengapa akhlak ini bisa menaikkan derajat kita? Karena pada prinsipnya setiap kita memiliki ego untuk mendapat penghargaan. Maka barang siapa yang mau menghargai orang lain dengan 'dianggap kehadirannya' melalui kiriman salam, jabat tangan, dan lainnya pastilah akan juga memberikan derajat yang baik kepada kita. Coba saja kita melihat di komplek perumahan kita, banyak RT/RW dipilih bukan karena kekayaannya, tapi banyak yang karena mereka adalah pribadi-pribadi yang dianggap akrab bagi warganya, yang mau menyapa, dan tentunya ringan untuk menolong sesamanya.

2. Ith'aamuth Tho'aam (Memberi makanan)
Rasulullah SAW mendidik kita untuk bersikap dermawan. Karena menjadi dermawan bukan given, tapi dilatih. Untuk melatihkan ke anak-anak kita tentu kita terlebih dahulu yang harus melakukannya. Bertetangga bukan masalah uang, tapi seberapa kita ingat pada mereka. Salah satu cara untuk mengingat keberadaan mereka adalah dengan saling membiasakan diri untuk memberi. Bukan masalah karena mereka berkekurangan tapi memang karena kita sayang, kita hargai keberadaannya. Dan bukan suatu aib rasanya saling memberi makanan meskipun tinggal di perumahan gedongan.

Bahkan saya minimal setahun sekali saat lebaran selalu menyempatkan diri dan keluarga mengunjungi 'bekas rumah kontrakan' yang kami tinggali duapuluh tahun yang lalu. Sampai sekarang mereka masih ingat saya, bukan karena sekarang saya berkecukupan tapi karena justru sejak belum punya anak saya dan istri selalu membiasakan berbagi meskipun hanya sepotong dua potong krupuk yang dibagikan ke tetangga sekitar. Saat itu sungguh saya jauh dari sejahtera, tapi saya ingin membiasakan memberi, bahkan terkadang mentraktir makanan. Karena kepuasan memberi dan mendapat kasih sayang orang yang kita beri sungguh sangat nikmat bahkan 'derajat baik' kita tak dilupakan hingga berlalunya zaman.

Mari biasakan selalu untuk memisahkan uang kita, pisahkan mana yang benar-benar milik kita mana yang hak orang lain, apalagi itu uang kantor, uang karyawan, dan lainnya. Segera pisahkan, jangan sekali-kali kita terlena untuk gampang memakainya. Sisihkan sebagian untuk membantu orang lain, memberi makan orang lain yang membutuhkan, jangan tunggu setelahnya kita kaya dan berkecukupan. Justru ketika kita biasa saja, saat saldo kita tak seberapa, derajat kita semakin tinggi di mata Allah dan juga 'mata manusia' karena rela berbagi.

3. Ash Sholaatu fil Lail (Salat Malam)
Qiyamul lail bukan masalah sulit, ini tergantung gaya hidup dan kebiasaan kita. Kalau pukul 21 kita sudah tidur, insya Allah bangun jam 3 atau menjelang jam 4 bukan hal yang berat. Mari kita latih, tidak harus 11 rokaat, 2 rokaat saja dulu juga bisa, 1 rokaat juga boleh, yang penting ada kemauan dan dilakukan rutin.
Kalau sampai bulan Februari 2009 nanti saya tidak sakit berarti insya Allah sudah 2 tahun saya tidak sakit.
Salat malam sangat membantu fitnya tubuh kita termasuk juga ketenangan batiniyah kita, decision making kita lebih terarah dan banyak kelebihan lainnya. Manfaatkan buku-buku tentang ini, tinggal dipraktekkan!
Jangan tunggu tua, jangan tunggu kaya....karena tua-muda, miskin-kaya semua perlu surga

Abu Syauqi
Pendiri dan Ketua Dewan Pembina Rumah Zakat Indonesia
(mbs)

0 komentar:

Posting Komentar

Postingan Populer